Sejarah Desa Jangkong


Desa Jangkong merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur. Awalnya Desa Jangkong bernama Desa Janggut yang berarti tinggi dan besar. Desa Jangkong memiliki prinsip bahwa setiap orang yang masuk ke Desa Jangkong harus dibunuh. Prinsip ini mulai kurang dipercayai ketika warga Desa Jangkong sudah mulai sadar dan mengenal agama. Hal ini ditandai dengan adanya sebagian besar masyarakat Desa Jangkong yang mulai memahami pentingnya pendidikan dan ilmu agama tinggi. Dengan keadaan tersebut maka banyak tokoh agama dan ulama yang sepakat  untuk merubah nama desa yang awalnya Desa Jangut berubah menjadi Desa Jangkong.
            Perubahan nama Desa Jangkong di atas terjadi semenjak masa pemerintahan  Jokotole, yaitu ketika pangeran Jokotole wafat di taman sari Desa Lapa Taman. Jasad pangeran Jokotole akan dibawa ke pemakaman keluarga kraton (Asta tinggi kraton Sumenep). Disepanjang perjalanan menuju Asta tinggi kraton para prajurit atau pengawal pangeran Jokotole merasa kekelahan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Selang beberapa waktu, bau jasad pangeran Jokotole sudah mulai tercium. Bau jasad tersebut dalam bahasa jawa disebut “ Bathang” yang berarti “Bangkai” dalam bahasa Indonesia. Para prajutit atau pengawal pangeran Jokotole mengingat pesan terakhir bahwa “Jika suatu saat Pangeran Jokotole meninggal, maka namanya ingin diabadikan menjadi nama sebuah desa”. Mengingat pesan yang disampaikan oleh Pangeran Jokotole maka para prajurit atau pengawal sepakat memberikan nama Batang sebagai sebuah nama desa. Nama Batang diambil karena desa tersebut merupakan tempat pertama kali terciumnya bau jasad pangeran Jokotole ketika akan dibawa ke Asta Tinggi Kraton Sumenep. Kemudian nama Batang diubah menjadi nama sebuah Kecamatan, yaitu Kecamatan Batang-Batang.
            Melihat kondisi jasad Pangeran Jokotole yang sudah berbau, para prajurit atau pengawal yang membawa jasad pangeran Jokotole memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Asta Tinggi Kraton Sumenep. Namun di tengah perjalanan pikulan yang membawa jasad Jokotole tersebut patah dan membuat para prajurit putus asa. Kemudian jrangkong dari jasad Pangeran Jokotole dibuang ke sebelah utara sungai Batang-Batang. Akhirnya sepakatlah para rombongan prajurit Pangeran Jokotole memberikan nama desa tersebut dengan sebutan Desa Jrangkong. Kata Jrangkong diambil karena pada zaman dahulu, ketika ada orang yang meninggal dan sudah lebih dari tujuh hari maka disebut jrangkong. Akan tetapi jasad dari Pangeran Jokotole dimakamkan di Desa Saasah.

Di sekitar Desa Jrangkong terdapat beberapa suku seperti suku Cina, Jawa dan sebagainya. Suku Cina menetap di Desa Pecinan. Sehingga suku cina tersebut menyebut Desa Jrangkong dengan nama Desa Jangkoeng. Dari situlah nama Desa Jangkoeng di kemas menjadi Desa Jangkong.


Sumber : H.Nayatullah (DPRD Desa Jangkong) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar